Website kebanyakan whitespace!

Interface website yang saya temukan benar-benar menyalahi aturan dalam desain interface website, yaitu banyaknya whitespace (ruang kosong).

Kira-kira hampir 70% dari tampilan berupa whitespace.  Kesalahan tidak hanya disitu saja, ada beberapa kesalahan lain yang menurut saya cukup mencolok, yaitu:

1.  Ketika di halaman home, bagian content tidak diberi border, tetapi ketika masuk ke salah satu menu bagian content diberi border.

2. Tidak adanya warna link yang membedakan menu mana yang sedang aktif atau sudah dikunjungi.

3. Judul pada content juga tidak sesuai dengan menu yang sedang aktif.

4. Masuk ke menu yang berbeda, user akan menemukan animasi desain page yang berbeda.

5. Masuk ke menu news, tampilan yang disajikan benar-benar standar, hanya berupa daftar berita dan link-nya. Jika dipilih salah satu berita, berita tersebut akan ditampilkan di tab yang baru bukan pada halaman yang sama. selain itu, halaman berita yang disajikan pun tidak disajikan dalam halaman content, tetapi hanya pada page yang polos (tanpa desain sama sekali).

Bagi yang ingin melihatnya, bisa dikunjungi web ini www.lintasmedia.in

Shin Yun Bok

Shin Yun-bok atau Hyewon (1758-?) adalah seorang pelukis yang berasal dari Dinasti Joseon, Korea.[1][2]

Bersama dengan Kim Hong-do, ia dikenal akan lukisannya yang menampilkan gambaran realistis tentang kehidupan pada saat itu.[2] Walaupun begitu, lukisannya dipandang sebelah mata karena dianggap erotis dan sensual, tema yang dianggap terlarang bagi masyarakat Dinasti Joseon yang menganut paham Konfusianisme yang kuat.

Kehidupan awal

Tidak diketahui secara pasti kapankah ia dilahirkan atau meninggal, dikarenakan sedikitnya catatan yang ada mengenai dirinya.[2] Namun, sejarawan meyakini bahwa ia mungkin hidup antara tahun 1758-1813.[2] Selain itu, baru-baru ini, diketahui bahwa nama asli Shin Yun-bok adalah Shin Ka-gwon.[2]

Shin berasal dari keluarga seniman profesional.[1] Kakek dan ayahnya adalah pelukis istana yang bekerja untuk kerajaan dalam Kantor Grafik dan Lukisan (Dohwaseo) yang bertanggung jawab membuat lukisan yang berhubungan dengan peristiwa khusus di istana.[1] Tidak diketahui apakah ia juga menduduki posisi di Dohwaseo, namun jelas bahwa Shin Yun-bok tidak ingin melukis berdasarkan kaidah.[1] Tidak ada catatan yang menuliskan tentang peran Shin dalam Dohwaseo, selain dikarenakan pada masa itu, ayah dan anak tidak diizinkan untuk bekerja dalam satu ruangan yang sama, karena ayahnya juga adalah seorang pelukis.[2]

Dalam karirnya, Shin dibayang-bayangi oleh Kim Hong-do, salah seorang pelukis terbesar Korea, walaupun ia telah mengembangkan keahlian melukisnya yang unik.[2] Ia berbakat melukis pemandangan, burung, dan binatang yang merupakan tema yang disukai kaum bangsawan pada masa itu.[1] Tapi, tetap saja hal tersebut tidak memuaskan dirinya untuk mencari hal yang baru.

Gaya lukisan

Shin menjadikan wanita sebagai inti lukisannya.[1] Sebelumnya, wanita tidak pernah muncul di lukisan dalam bentuk apapun, tapi dalam karya Shin wanita memperlihatkan daya tarik dan kehangatan yang terpancar dari kepandaian mereka.[1] Shin memfokuskan melukis kecantikan wanita yang sedang jatuh cinta sebagai tema utama karyanya.[1] Abad ke-17 sampai 19 adalah masa dimana wanita mulai dikenal sebagai kaum yang independen dan masyarakat mulai mengekspresikan emosi yang bebas.[1] Karya Shin merupakan saluran yang menyajikan perubahan tersebut yang diungkapkan dengan kepekaan yang tinggi dan tanpa batasan

Hyewon_Weolha-jeongin.jpg

sumber: wikipedia.org/shin_yun_bok

Category: Seni  Tags: , ,  3 Comments

Seni Lukis Korea

Lukisan Korea adalah jenis lukisan tradisional yang dilukis dengan gaya lukis khas Korea.  Lukisan Korea disebut dengan istilah minhwa atau lukisan rakyat.  Lukisan tradisional Korea dapat dikategorikan dari 20 sampai 30 jenis berdasarkan gaya melukisnya.

Gaya melukis pemandangan adalah salah satu tema yang umum digunakan.  Lukisan tradisional juga menggambarkan berbagai jenis hewan, bunga-bunga dan tentang kehidupan masyarakat.  Lukisan ini umumnya dilukis untuk dekorasi ruangan rumah.  Jenis lukisan lain adalah lukisan bertema Konfusianisme dan Buddhisme.
Pola lukisan

Lukisan Korea menampilkan berbagai tema dan pola yang disukai, antara lain harimau, dewa-dewa Tao, dewa gunung dan raja naga, serta tema-tema lain.  Tema harimau adalah jenis lukisan paling banyak dilukis dalam lukisan Korea.  Orang Korea menganggap harimau sebagai hewan yang jinak, lucu dan bodoh.   Dalam banyak lukisan harimau digambarkan sebagai piaraan dari dewa gunung yang patuh.  Harimau juga sering dilukis berdampingan dengan binatang lain seperti burung magpie, ayam dan singa.

Lukisan bertema Taoisme menggambarkan dewa-dewa sebagai simbol harmoni dengan alam untuk mencapai kehidupan abadi. Dewa-dewa Tao digambarkan sebagai pertapa di gunung yang dianggap membawa keberuntungan dan kesehatan.

Lukisan dewa gunung dan raja naga dilukis berdasarkan legenda Dangun dan raja naga. Lukisan dewa gunung digambarkan dengan orang tua berjanggut putih yang mengendarai harimau, sementara lukisan raja naga melukiskan naga terbang di antara awan dan di atas lautan dan ombak-ombak tinggi.  Raja naga dianggap sebagai wujud dari Raja Munmu dari kerajaan Silla Bersatu yang dimakamkan di bawah laut.    Lukisan-lukisan ini disimpan di kuil-kuil yang terletak di gunung atau pinggir pantai.

Lukisan bertema Buddhisme umumnya digunakan di kuil-kuil Buddha dan melukiskan ilustrasi sutra dan potret biksu.   Lukisan ini berciri khas sederhana dan berwarna terang.  Lukisan bertema Konfusianisme didasarkan pada ideologi Konfusius dan pengikutnya yang berkembang di Korea.  Contoh-contoh lukisan tema Konfusianisme adalah lukisan yang menggambarkan kehidupan seorang ilmuwan terkenal dan lukisan yang membawa tema kesetiaan dan hubungan persaudaraan, lukisan seekor ikan karper yang bertransformasi menjadi naga, perlambang aspirasi untuk mencapai prestasi dalam bidang pendidikan dan pekerjaan.

Salah satu lukisan yang terkenal adalah karya Shin Yun Bok.  Lihat disni karyanya:   wikipedia.org/shin_yun_bok

sumber: wikipedia.org/lukisan_korea

Ibnu Batutah – Penjelajah Separuh Bumi

Abu Abdullah Muhammad bin Battutah (bahasa Arab: أبوعبدﷲ محمد إبن بطوطة, Abu Abdullah Muhammad ibn Bathuthah) atau juga dieja Ibnu Batutah (24 Februari 13041368 atau 1377) adalah seorang pengembara Berber Maroko.

Atas dorongan Sultan Maroko, Ibnu Batutah mendiktekan beberapa perjalanan pentingnya kepada seorang sarjana bernama Ibnu Juzay, yang ditemuinya ketika sedang berada di Iberia. Meskipun mengandung beberapa kisah fiksi, Rihlah merupakan catatan perjalanan dunia terlengkap yang berasal dari abad ke-14.

Hampir semua yang diketahui tentang kehidupan Ibnu Batutah datang dari dirinya sendiri. Meskipun dia mengklaim bahwa hal-hal yang diceritakannya adalah apa yang dia lihat atau dia alami, kita tak bisa tahu kebenaran dari cerita tersebut.

Lahir di Tangier, Maroko antara tahun 1304 dan 1307, pada usia sekitar dua puluh tahun Ibnu Batutah berangkat haji — ziarah ke Mekah. Setelah selesai, dia melanjutkan perjalanannya hingga melintasi 120.000 kilometer sepanjang dunia Muslim (sekitar 44 negara modern).

Perjalanannya ke Mekah melalui jalur darat, menyusuri pantai Afrika Utara hingga tiba di Kairo. Pada titik ini ia masih berada dalam wilayah Mamluk, yang relatif aman. Jalur yang umu digunakan menuju Mekah ada tiga, dan Ibnu Batutah memilih jalur yang paling jarang ditempuh: pengembaraan menuju sungai Nil, dilanjutkan ke arah timur melalui jalur darat menuju dermaga Laut Merah di ‘Aydhad. Tetapi, ketika mendekati kota tersebut, ia dipaksa untuk kembali dengan alasan pertikaian lokal.

Kembail ke Kairo, ia menggunakan jalur kedua, ke Damaskus (yang selanjutnya dikuasai Mamluk), dengan alasan keterangan/anjuran seseorang yang ditemuinya di perjalanan pertama, bahwa ia hanya akan sampai di Mekah jika telah melalui Suriah. Keuntungan lain ketika memakai jalur pinggiran adalah ditemuinya tempat-tempat suci sepanjang jalur tersebut — Hebron, Yerusalem, dan Betlehem, misalnya — dan bahwa penguasa Mamluk memberikan perhatian khusus untuk mengamankan para peziarah.

Setelah menjalani Ramadhan di Damaskus, Ibnu Batutah bergabung dengan suatu rombongan yang menempuh jarak 800 mil dari Damaskus ke Madinah, tempat dimakamkannya Muhammad. Empat hari kemudian, dia melanjutkan perjalanannya ke Mekah. Setelah melaksanakan rangkaian ritual haji, sebagai hasil renungannya, dia kemudian memutuskan untuk melanjutkan mengembara. Tujuan selanjutnya adalah Il-Khanate (sekarang Iraq dan Iran.

Dengan cara bergabung dengan suatu rombongan, dia melintasi perbatasan menuju Mesopotamia dan mengunjungi najaf, tempat dimakamkannya khalifah keempat Ali. Dari sana, dia melanjutkan ke Basrah, lalu Isfahan, yang hanya beberapa dekade jaraknya dengan penghancuran oleh Timur. Kemudian Shiraz dan Baghdad (Baghdad belum lama diserang habis-habisan oleh Hulagu Khan).

Di sana ia bertemu Abu Sa’id, pemimpin terakhir Il-Khanate. Ibnu Batutah untuk sementara mengembara bersama rombongan penguasa, kemudian berbelok ke utara menuju Tabriz di Jalur Sutra. Kota ini merupakan gerbang menuju Mongol, yang merupakan pusat perdagangan penting.

Setelah perjalanan ini, Ibnu Batutah kembali ke Mekah untuk haji kedua, dan tinggal selama setahun sebelum kemudian menjalani pengembaraan kedua melalui Laut Merah dan pantai Afrika Timur. Persinggahan pertamanya adalah Aden, dengan tujuan untuk berniaga menuju Semenanjung Arab dari sekitar Samudera Indonesia. Akan tetapi, sebelum itu, ia memutuskan untuk melakukan petualangan terakhir dan mempersiapkan suatu perjalanan sepanjang pantai Afrika.

Menghabiskan sekitar seminggu di setiap daerah tujuannya, Ibnu Batutah berkunjung ke Ethiopia, Mogadishu, Mombasa, Zanzibar, Kilwa, dan beberapa daerah lainnya. Mengikuti perubahan arah angin, dia bersama kapal yang ditumpanginya kembali ke Arab selatan. Setelah menyelesaikan petualangannya, sebelum menetap, ia berkunjung ke Oman dan Selat Hormuz. Setelah selesai, ia berziarah ke Mekah lagi.

Setelah setahun di sana, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan di kesultanan Delhi. Untuk keperluan bahasa, dia mencari penterjemah di Anatolia. Kemudian di bawah kendali Turki Saljuk, ia bergabung dengan sebuah rombongan menuju India. Pelayaran laut dari Damaskus mendaratkannya di Alanya di pantai selatan Turki sekarang. Dari sini ia berkelana ke Konya dan Sinope di pantai Laut Hitam.

Setelah menyeberangi Laut Hitam, ia tiba di Kaffa, di Crimea, dan memasuki tanah Golden Horde. Dari sana ia membeli kereta dan bergabung dengan rombongan Ozbeg, Khan dari Golden Horde, dalam suatu perjalanan menuju Astrakhan di Sungai Volga.

sumber: wikipedia.org/ibnu_batutah

Category: Biografi  One Comment

Internet gratis kapan terwujud

hari ini pelatihan webometrik,males banget harus nunggu koneksi yang super

badge IPB luv palestine

duper lemot…. more »